Thursday, December 08, 2005   
 Human Mind Evolution

Pernah melihat anak-anak Playgroup atau TK sedang belajar di kelas? Betapa polosnya, betapa cerianya. Betapa saat ibu guru menanyakan sesuatu semua berebutan untuk menjawab? Lalu bagaimana dengan anak SD kalau sedang belajar di kelas? Anak SMP? Anak SMA? Mahasiswa? Mengapa berbeda? Mengapa pada saat mahasiswa sedang kuliah, jika guru memberikan pertanyaan, suasana akan menjadi tegang dan sedikit sekali yang mengangkat tangan? Apa yang terjadi antara TK sampai dengan kuliah? Mengapa respon anak TK dengan mahasiswa berbeda? Saya ingat masa SMA saya. Ada satu guru yang cukup "killer", yang untuk memancing respon dari muridnya, mengadakan program yang dia beri nama responsi. Semacam program tanya jawab, yang nilainya setara dengan nilai ulangan. Seandainya kita menjawab pertanyaan yang dia ajukan dengan tepat, kita mendapatkan nilai 25. Begitu ada yang mengumpulkan total nilai 125, satu session responsi pun ditutup. Dan saya ingat, saya benci sekali dengan mata pelajaran itu. Dan ternyata saya tidak sendiri. Entah mengapa, rasanya grogi sekali untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru tersebut. Guru tersebut selalu mengatakan, suatu saat kami akan berterima kasih kepadanya karena mengadakan program seperti ini. Belakangan saya harus mengakui, bahwa ia benar. Tapi yang menarik, apa yang berubah?

Pada saat seorang bayi belajar berjalan, dia belajar berjalan SAMPAI bisa. Meskipun dia jatuh, menabrak meja, tersandung, dia akan terus mencoba, SAMPAI bisa berjalan. Tapi mengapa anak SMA belajar kalkulus, kebanyakan akan give up setelah mencoba beberapa kali? Apa yang terjadi dari bayi sampai kita SMA atau kuliah? Mengapa kita lebih memilih untuk menyerah dibandingkan terus berusaha sampai kita mencapai apa yang kita tuju? Tidak sadarkah kita, bahwa kita diciptakan untuk kebesaran. Bahwa kita adalah unik, dan kalau diruntut ke asal usul kita, kita bukanlah mahluk yang gampang menyerah.

Og Mandino, dalam The Greatest Miracle In The World, menulis...

Dari ayahmu, pada saat rasa cinta yang paling tinggi, mengalir tidak terhitung banyaknya benih cinta, lebih dari empat ratus juta jumlahnya. Semuanya, sementara berenang di dalam diri ibumu, menyerah dan mati. Semua kecuali satu! Engkau.

Hanya kau sendiri yang tetap lestari di dalam kehangatan cinta tubuh ibumu, mencari belahanmu yang lain, satu sel dari ibumu yang begitu kecil sehingga lebih dari dua juta sel diperlukan untuk mengisi satu kulit biji buah eik. Namun, kendari ada perbandingan yang begitu mustahil, di samudra kegelapan dan bencana yang luas itu, kau bertahan hidup, menemukan sel yang begitu kecil, bergabung dengannya, dan memulai sebuah kehidupan baru. Kehidupanmu.

Dengan semua perpaduan yang berada di bawah perintahKu, yang dimulai dengan salah satu dari empat ratus juta sperma ayahmu, melalui ratusan gen dalam setiap kromosom dari ibu dan ayahmu, seharusnya aku bisa menciptakan tiga ratus juta milyar manusia, yang masing-masing berbeda antara satu dan lainnya.

Tetapi siapa yang kuturunkan?

Engkau! Hanya satu dari jenisnya. yang paling langka dari yang langka. Yang paling langka dari yang langka. Harta kekayaan yang tidak ternilai harganya, yang memiliki kualitas pikiran, bicara, gerakan, penampilan dan tindakan yang tidak seperti lain-lainnya yang pernah hidup, sedang hidup atau akan hidup.

Mengapa kau menghargai dirimu dalam hitungan sen padahal kau senilai dengan uang tebusan untuk seorang raja?

Mengapa kau mendengarkan kata-kata mereka yang meremehkanmu dan yang jauh lebih buruk lagi, mengapa kau mempercayai mereka?


Meskipun ini tulisan Og Mandino yang mengumpamakan kata-kata di atas sebagai pernyataan dari Tuhan, tapi saya percaya bahwa Tuhan sebetulnya ingin mengatakan hal yang sama kepada kita. Mengapa kita - yang pada saat kita masih terdiri dari satu sel tunggal, berpacu dengan 400 juta sel lainnya, untuk mencari pasangannya, tidak mengenal kata menyerah - pada saat kita besar, kita malah dengan mudahnya menyerah?

Jawabannya terletak pada pikiran. Semenjak kita masih janin, bertumbuh menjadi bayi, menjadi balita, SD, SMP, SMA, kemudian kuliah, lalu bekerja, kita selalu mendengarkan banyak opini orang lain tentang kita. Bahwa kita bodoh, pemalas, pecundang, hanya pantas untuk ditertawakan, dan lain sebagainya, dan semua kata-kata, ejekan, makian, telah begitu melekat dalam alam bawah sadar kita, dan ini mengakibatkan citra diri yang buruk sekali dalam diri kita. Kita cenderung mengiyakan apa yang dikatakan orang lain terhadap kita. Mulanya kita tidak percaya, tapi karena kita terus menerus dibombardir dengan kata-kata tersebut oleh orang tua, saudara kandung, teman, guru, kita cenderung menganggap itu benar. Dan karena citra diri yang buruk ini, kita kehilangan semangat untuk mencoba lagi. 'Untuk apa saya mencoba lagi? Kalkulus memang susah, dan saya memang bodoh dalam hal matematika.' 'Saya memang orangnya kurang beruntung karenanya setiap usaha yang saya lakukan selalu gagal.' Kita berubah dari satu sel yang penuh dedikasi, penuh impian, penuh semangat untuk menemukan pasangannya, menjadi orang dewasa yang tidak punya masa depan.

Mengapa kau mendengarkan kata-kata mereka yang meremehkanmu dan yang jauh lebih buruk lagi, mengapa kau mempercayai mereka?

Mengapa? Pada saat kita bayi, kita seperti komputer baru, siap untuk menerima program-program untuk mengatur jalannya sistem komputer. Sayangnya, kita tidak mampu untuk memilih. Saat kita masih kecil, tidak ada yang pernah mengajari kita untuk memilih program yang bagus untuk kita, dan orang tua, guru kadang tidak mengerti bahwa mereka meng-install program-program negatif ke dalam pikiran kita. Kabar bagusnya, kita dapat memprogram ulang pikiran kita, dan kita bisa mendesign hidup kita dan masa depan kita. Tidak mudah, namun bisa dilakukan. Kabar kurang bagusnya, ini tidak akan dibahas sekarang ini. :)

posted by Surya at 12/08/2005 12:46:00 AM 0 comments
 

Wednesday, November 30, 2005   
 PLOM & Responsibility
Belakangan ini, saya lagi banyak baca buku yang lebih mirip buku psikologi. Salah satunya berjudul Master Your Mind, Design Your Destiny (mirip ama 'Change Your Thinking, Change Your Life'? Siapa tahu nanti ini semua bisa jadi buku. :D) dari Adam Khoo. Tadinya, melihat sampulnya, buku ini sama sekali tidak menarik. Sampulnya monoton sekali. But, don't judge the book by it's cover karena isinya ternyata bagus. Biarpun penulis sempat menyinggung soal NLP (neuro linguistic program) yang waktu saya search di internet disebut-sebut salah satu aliran new age, tapi saya coba berpikiran terbuka aja, karena apa yang saya dapat di buku ini semuanya positif, bahkan banyak materi standar dari buku-buku self help yang sekarang banyak sekali di pasaran (di Indonesia, thanks to Gramedia ama Karisma group) hanya saja di sini bukan cuma soal tehnik, tapi lebih dalam membahas hubungannya semua itu dengan pikiran atau cara pikir kita.

Salah satu yang saya mau sharing di sini, mengenai tanggung jawab. Tanggung jawab atas hidup kita sendiri. Terkadang, sadar atau tidak sadar, saat sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi dalam hidup kita, kita lebih memilih jalan yang gampang, blame something or someone else. 'Resesi ini menimbulkan masalah keuangan pada saya.' 'Karena perusahaan dan teman-teman kerja yang bodoh, saya jadi kacau setiap hari.' 'Anak-anak saya sangat malas. Mereka membuat saya seperti berhadapan dengan tembok.' 'Saya tidak punya cukup waktu untuk diri saya sendiri.' 'Pelanggan saya sangat sulit, mereka sangat tidak masuk akal.' 'Suami / Istri saya membuat saya gila.' You know the pattern. We've all been there.

Skip Ross mengatakan ini sebenarnya penyakit. Penyakit menular yang dia sebut PLOM. Poor Little Old Me. Yang kalau diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, penyakit victim mentality. Saat kita berpikir, the world is taking an aim at me. We blame everything else but ourself. Kita seperti anak kecil yang duduk di pojokan, diejek oleh teman-teman, dimarahin oleh orang tua, dibilang bodoh oleh guru. It's not my fault. I'm the victim here.

Kadang-kadang, menganggap bahwa diri kita hanyalah korban dari tindakan orang-orang di sekitar kita adalah tindakan paling nyaman yang bisa kita lakukan. Trust me because I do it all the time. Karena, diakui atau tidak, bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu berat. Mungkin kita bertanya, mengapa kita harus bertanggung jawab padahal kita baru saja dipecat, kita ditipu orang, bisnis lesu karena ekonomi sedang turun. Mengapa kita harus bertanggung jawab untuk hal-hal yang ada di luar kendali kita? Dan sebetulnya, kita memang tidak harus bertanggung jawab atas hal-hal yang ada di luar kendali kita. Tapi kita bertanggung jawab atas respon kita untuk kejadian itu.

John Maxwell pernah berkata, 'Pada saat ini, pasti ada orang lain di luar sana, yang menghadapi problem yang sama dengan saya, tapi dia bisa melewatinya dengan baik.' Kuncinya adalah tanggung jawab. Mengutip dari Master Your Mind, Design Your Destiny...

Jadi, baik besar maupun kecil, setiap orang sama-sama memiliki kekuatan untuk menguasai, dan mengubah apa pun yang ada dalam hidup mereka saat ini juga.

Rahasianya adalah dengan meletakkan tangung jawab penuh atas apa yang terjadi pada diri kita. Ini benar! Jika Anda merasa bertanggung jawab penuh atas semua yang terjadi, berarti Anda mengakui fakta bahwa Andalah yang membuat semuanya itu terjadi.

Jika Anda telah membuat sesuatu terjadi, maka Anda memiliki kekuatan untuk mengubahnya. Jadi, memikul tanggung jawab penuh atas sesuatu yang terjadi akan menempatkan diri Anda pada posisi yang penuh dengan kekuatan.

Seberapa jauh Anda memikul tanggung jawab atas sesuatu, maka sejauh itu pula Anda akan memiliki kekuatan untuk mengendalikannya.

Apa pun situasi yang Anda hadapi, Anda harus memikul tanggung jawab. Anda harus menempatkan diri Anda di jalan untuk dapat melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

Selama Anda terus berpikir bahwa itu bukan merupakan kesalahan Anda, dan orang lain atau keadaan yang harus berubah, Anda akan terus merasa tidak berdaya. Dengan terus berperan sebagai korban, Anda akan hanya dapat mengandalkan belas kasih dari lingkungan.

Sangat jarang terjadi perubahan di lingkungan Anda... sampai Anda mengubah diri Anda sendiri terlebih dahulu.


Seandainya kita memilih untuk tetap menjadi korban dan tidak mau bertanggung jawab, kita tidak punya kontrol atas keadaan itu, kita tidak punya kekuatan untuk mengubahnya. Mungkin rasanya nyaman, karena kita tidak bertanggung jawab untuk melakukan apapun untuk mengubahnya, tapi untuk jangka panjang, harganya mahal sekali.

Jika kita mulai bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam hidup kita, kita akan mulai berpikir, apa yang saya harus lakukan untuk keluar dari masalah ini? Ini pertanyaan yang tidak akan pernah bisa kita tanyakan pada diri sendiri selama kita ada dalam pola pikir sebagai victim. Mengapa harus bertanya kalau masalahnya di luar sana? We can't do anything about that.

Ada yang pernah berkata, 'Dalam seluruh kitab suci, semua keajaiban-keajaiban yang terjadi, SEMUANYA berawal dari masalah. Makin besar masalahnya, makin dahsyat keajaiban yang terjadi' So if you have a problem right now, don't worry, you're a candidate for a miracle.

posted by Surya at 11/30/2005 09:23:00 PM 0 comments
 

Thursday, November 24, 2005   
 do you believe in soul mate?
Saya dan istri saya selalu punya film untuk ditonton saat kami makan. Kami punya meja kecil di kamar kami, dan di sanalah kami selalu makan, bukan di meja makan. Entah kenapa, rasanya lebih enak makan dengan cara begitu. Paling sering kami nonton serial-serial tv (saya menganggap belakangan ini booming dvd serial tv sesuatu yang jenius sekali. Karena sebagus apapun film di bioskop, jauh lebih menyenangkan menonton film yang karakternya kita kenal dengan baik). Friends (our all time favourite), Lost, Alias, 24, and so on. Sebenernya saya mau nyebutin yang lainnya lagi, tapi just for fun, 4 serial yang saya tulis punya jagoan bernama Jack. Jack Bauer, Jack Bristow, Jack Shepherd, ama Jack Geller. Hihi, saya tahu Jack Geller bukan jagoan, tapi yah namanya juga buat fun. :)

Belakangan ini kami berdua nonton ulang Sex and The City. Memang dari judulnya, ini film banyak ngebahas soal sex. Yang normal sampai yang amat tidak normal. Tapi sebenernya banyak hal yang bisa kita dapetin, terutama soal friendship. Dan biarpun Sarah Jessica Parker lebih banyak annoyingnya, but her character can write. :)

Di satu episode mereka ngomongin soal soul mate. There's always someone for everyone. THE SOMEONE. Mungkin dari kecil kita sering sekali diceritakan fairy tales tentang putri cantik yang tertidur, yang jadi pembantu, dikurung di menara yang tinggi, dan dari semuanya itu, ada seorang pangeran yang datang dan menolong dia, kemudian mereka menikah and live happily ever after. Ini sebabnya kita ngakak setengah mati kalau nonton Shrek. 'You're not supposed to be an ogre.' Dan betapa di classic fairy tale, harusnya ogre yang berubah jadi pangeran, bukan putri berubah jadi ogre. :)

Tapi apakah semua imajinasi dalam fairy tale itu bisa kita harapkan dalam hidup kita? Mengapa fairy tale selalu ditutup dengan mereka hidup bahagia selamanya? Bukankah ada cerita lanjutan seperti mertua (Shrek 2. Hihi), atau dalam kehidupan nyata, life after marriage. Saya belum pernah ketemu orang lain yang lebih cocok dengan diri saya dibanding dengan istri saya. Tapi tetap saja, dalam hidup kami berdua masih aja ada perbedaan dan masalah. Selera makan kami berbeda. Saya lebih suka manis, dia lebih suka asin. Cara tidur kami berbeda. Saya gampang tidur, gampang bangun. Dia susah tidur, susah bangun. Dan masih banyak lagi hal-hal berbeda. Dan dalam hidup, memang begitulah adanya. Tapi mengapa kita tidak bisa melihat dengan obyektif, mengapa kita lebih mengharapkan seorang pasangan yang perfect. Mungkin ini penyebab banyaknya perceraian sekarang. Di Amerika, 90% pernikahan berakhir dengan perceraian. Indonesia sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Karena kelihatannya semua bermula dari selebritis. Karena mereka public figure, yang dipuja, seakan-akan apapun yang mereka lakukan memberi kita lampu hijau untuk melakukan hal yang sama.

John Maxwell pernah bercerita. Satu saat, dia mengadakan konferensi untuk para pendeta. Di tengah-tengah konferensi, ada pendeta yang bertanya kepada istri John Maxwell, Margaret. Pertanyaannya simple, 'Does John make you happy?' To everyone suprise, Margaret bilang, 'No, John doesn't make me happy.' Kemudian dia bercerita, selama 6 bulan pertama pernikahan mereka, dia selalu menunggu John Maxwell untuk membuat dia happy. Setelah mereka berdua bekerja seharian, di malam hari, dia selalu menunggu John Maxwell untuk membuat dia bahagia. Tapi pada akhirnya dia berkata, it's not gonna happen. The only person that can make me happy is me. What a concept. Happiness is not a situation. Happiness is a choice. Skip Ross pernah berkata, 'You always have a choice. You can choose to be happy. You can choose to be grumpy. It's always better, it's always smarter, it's always wiser, to choose to be happy.' Dan sama seperti happiness is a choice, everything else in life is a choice.

Mungkin masalahnya dengan konsep dari soul mate adalah, kita mengharapkan pasangan yang perfect. Mengerti kita. Melakukan apapun yang kita mau. Benci dengan hal-hal yang kita benci. Padahal dalam hidup, tidak ada 2 orang yang 100% sama. Karena setiap orang punya background yang berbeda, masa lalu yang berbeda, keluarga yang berbeda. Dan itu semua akan jadi bagian dari hidup kita untuk selamanya. Sangat amat tidak mungkin mengharapkan pasangan yang perfect untuk kita.

Salah satu yang berbahaya dari masalah soul mate ini adalah, itu membuat kita menjadi orang yang mengharapkan orang lain (dalam hal ini pasangan kita) untuk fit dalam ekspektasi kita. Dan kalau kita sudah mempunya pikiran seperti itu, kita sebetulnya jadi pihak yang hanya mengharapkan orang lain untuk berubah. Kita lupa bahwa diri kita sendiri juga tidak sempurna. Bahwa kita harus berubah juga. Kita tidak berhenti untuk berpikir bahwa, mungkin salahnya bukan di pasangan kita, tapi mungkin salahnya ada di kita. Kita tidak akan pernah berpikir seperti itu, karena jika pasangan kita berbuat sesuatu yang menurut kita tidak selayaknya dilakukan oleh orang yang harusnya jadi pasangan kita, kita langsung menganggap, ini semua karena dia bukan soul mate kita. Kita lupa, pasangan kita hanya manusia biasa. Yang punya kebutuhan, ketakutan, dan harapan yang berbeda dari diri kita.

Hal lain yang bahkan lebih berbahaya dari hal di atas mengenai soul mate adalah, kita akan selalu berpikir bahwa, ada orang di luar sana yang bisa menerima kita apa adanya, akibatnya, di satu sisi kita mengharapkan orang lain untuk berubah, untuk mengerti kita, tapi di sisi lain, kita tidak mau berubah. Kita lupa, bahwa kita juga manusia. Bahwa kita juga bisa berbuat kesalahan, bahwa bukan hanya pasangan kita yang bersalah, mungkin itu kesalahan kita juga. Kita lupa untuk bertanggung jawab. Kita lupa saat kita berkata, 'this marriage/relationship will never work', bahwa marriage/relationship do need work. Kenapa kita mau bekerja keras di kantor, we don't work on our marriage/relationship?

Stephen R. Covey, di buku 7 Habits of Highly Effective People, habit pertama yang dia tulis yang dimiliki oleh orang-orang yang highly effective adalah, be proactive. Sebetulnya, apa itu proactive? Mungkin lebih gampang dijelaskan dengan menjelaskan arti lawannya, reaktif. Jika kita reaktif terhadap kehidupan, kita akan selalu jadi korban. Kita akan selalu menganggap bahwa kehidupan terjadi di sekitar kita dan kita hanyalah pengamat. Apa yang orang lain lakukan terhadap kita, begitulah adanya. Kita sama sekali tidak berdaya untuk melawan. Jika apa yang mereka lakukan membuat kita sedih, kita harus sedih. Proaktif kebalikannya. Semua merupakan keputusan. Seperti kata Margaret Maxwell, happiness is a choice. We choose. Kita hidup bukan karena apa yang orang lain lakukan, tapi apa yang kita lakukan. Mungkin kata kuncinya adalah tanggung jawab. Orang proaktif mengambil tanggung jawab atas hidup mereka sendiri.

Jadi intinya adalah, mungkin there's no such thing as a soul mate. Or in other words, soul mate is a choice. We choose our soul mate. And after that decision, after we choose, we make that work. No matter what. That is why we promise to be there, for better or worse, til death do us part.

Marriage is not a test. Marriage is a decision. Kita memilih sebelum menikah. Dan kita sebetulnya tidak membutuhkan pasangan yang sempurna. Yang kita perlukan adalah pasangan yang mau mengerti, compromise, and change if change is needed.

posted by Surya at 11/24/2005 07:48:00 PM 1 comments
 

the authour lives with his wife in lippo karawaci, tangerang, indonesia.
enjoying movies, music, reading, travelling and writing.
for every comment please feel free to contact him.
thanks for visiting this blog!